Perjalanan Ibnu Battutah, Penjelajah Muslim yang Keliling Dunia 30 TahunBy Rama aditya putra

 


Perjalanan Ibnu Battutah, Penjelajah Muslim yang Keliling Dunia 30 Tahun

By Rama aditya putra
ramakhans2410@gmail.com 

Gambar 1.0
Ibnu bathutah 

Tak ada yang menyangka seorang pemuda dari Maroko akan menghilang selama tiga puluh tahun hanya demi melihat dunia. Ketika Ibnu Battuta meninggalkan rumahnya pada 1325, ibunya menangis seperti sedang melepas seseorang menuju kematian.

Ibnu Battuta memulai perjalanan dari kota Tangier dengan tujuan awal berhaji ke Makkah. Ia masih berusia dua puluh satu tahun dan belum pernah pergi jauh dari kampungnya sendiri. Perjalanan melintasi gurun Afrika Utara menjadi ujian pertama yang hampir merenggut nyawanya. Banyak peziarah jatuh sakit karena panas, kelaparan, dan serangan perampok di jalur dagang. Namun di tengah ketakutan itu, Ibnu Battuta justru merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ia mulai jatuh cinta pada dunia yang asing, luas, dan penuh misteri di luar rumahnya.

Saat tiba di Mesir, matanya seperti terbuka untuk pertama kali melihat peradaban besar Islam. Kairo dipenuhi ulama, pedagang, perpustakaan, dan pasar yang ramai sepanjang siang dan malam. Ia melihat kapal-kapal dari Afrika Timur, Persia, hingga India bersandar di pelabuhan Sungai Nil. Di sana, Ibnu Battuta sadar bahwa perjalanan ini tidak akan berhenti hanya di kota suci Makkah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia memutuskan untuk terus melanjutkan pengembaraan ke negeri-negeri lain. Keputusan itu perlahan mengubahnya menjadi salah satu penjelajah terbesar dalam sejarah dunia Islam.

Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa ketika ia mengunjungi Persia, Anatolia, dan Afrika Timur.Ia pernah tinggal bersama suku pengembara, tidur di masjid tua, hingga makan bersama para sultan. Di setiap negeri, ia mencatat budaya, bahasa, hukum, dan kehidupan masyarakat yang ditemuinya. Namanya mulai dikenal di jalur perdagangan Muslim sebagai pengembara yang tidak pernah berhenti berjalan. Sebagian orang mengaguminya sebagai ulama pemberani, sementara yang lain menganggapnya terlalu nekat. Tetapi Ibnu Battuta terus bergerak, seolah ada sesuatu yang selalu memanggilnya dari kejauhan.

Perjalanan paling berbahaya dimulai ketika ia tiba di India pada masa Sultan Muhammad bin Tughluq. Sultan Delhi itu terkenal sangat cerdas, tetapi juga dikenal kejam dan sulit ditebak emosinya. Ibnu Battuta diangkat menjadi hakim kerajaan dan hidup mewah di dalam istana yang megah. Namun di balik kemewahan itu, setiap hari dipenuhi rasa takut yang tidak pernah hilang. Banyak pejabat dihukum mati hanya karena kesalahan kecil atau kecurigaan dari sang sultan.

Ibnu Battuta mulai sadar bahwa istana bisa lebih mengerikan daripada badai di tengah gurun. Suatu malam, ia mencoba meninggalkan Delhi secara diam-diam untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Sayangnya, pasukan kerajaan berhasil menangkapnya sebelum ia berhasil keluar dari wilayah kekuasaan sultan. Dengan tubuh gemetar, ia dibawa kembali ke istana dan yakin hidupnya akan segera berakhir. Namun Sultan Muhammad bin Tughluq justru memberinya tugas baru sebagai utusan menuju Cina. Tugas itu terdengar seperti kehormatan besar, tetapi sebenarnya penuh risiko yang mematikan di perjalanan. Tanpa pilihan lain, Ibnu Battuta kembali menaiki kapal dan meninggalkan India menuju lautan berbahaya.

Di tengah Samudra Hindia, badai besar menghantam armada yang membawa rombongan Ibnu Battuta. Petir menyambar langit malam sementara ombak raksasa menghancurkan kapal satu demi satu dengan brutal. Jeritan para awak kapal tenggelam bersama peti emas dan hadiah kerajaan yang dibawa ke Cina. Ibnu Battuta berhasil selamat setelah terdampar sendirian di pantai asing tanpa harta dan pengawal. Anehnya, setelah semua penderitaan itu, ia tidak memilih pulang ke Maroko untuk berhenti mengembara. Ia justru melanjutkan perjalanan ke Maladewa, Sri Lanka, hingga akhirnya tiba di wilayah Cina.

Setelah tiga puluh tahun berkeliling dunia, Ibnu Battuta akhirnya kembali ke kota kelahirannya di Tangier. Rambutnya memutih dan tubuhnya dipenuhi bekas perjalanan panjang yang hampir mustahil dipercaya manusia biasa. Ia membayangkan pelukan ibunya yang dulu menangis saat melepas kepergiannya menuju Makkah bertahun-tahun lalu. Namun ketika sampai di depan rumah, tetangganya memberi kabar yang menghancurkan hatinya seketika itu juga. Ibunya meninggal beberapa bulan sebelum dirinya berhasil kembali ke tanah kelahirannya sendiri. Saat itulah Ibnu Battuta sadar bahwa dunia telah memberinya segalanya sekaligus merampas hal terpenting darinya.

Orang-orang mengenang Ibnu Battuta sebagai penjelajah Muslim terbesar yang pernah mengelilingi dunia selama tiga puluh tahun. Tetapi semakin jauh ia berjalan, semakin ia kehilangan alasan untuk benar-benar pulang ke rumahnya sendiri. Ia melihat kerajaan runtuh, perang berdarah, wabah mematikan, dan manusia saling membunuh demi kekuasaan. Dunia yang dulu ingin ia taklukkan ternyata tidak pernah memberinya tempat untuk benar-benar beristirahat. Dan mungkin, selama ini Ibnu Battuta bukan sedang mencari negeri-negeri baru yang menakjubkan di dunia. Ia sebenarnya sedang berlari dari ketakutan bahwa rumah yang ia tinggalkan tak akan pernah sama lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa VOC Bisa Menguasai Indonesia Selama Ratusan Tahun

Kisah Sultan yang Menaklukkan Konstantinopel di Usia 21 Tahun